sharing is caring

Showing posts with label STORIES. Show all posts
Showing posts with label STORIES. Show all posts

BERWISATA DI TENGAH PANDEMI COVID-19: ORCHID FOREST CIKOLE, LEMBANG


Hari Minggu pagi, tepatnya di tanggal 5 Juli 2020, kami memutuskan untuk pergi berwisata ke Lembang. Sejak pertengahan Maret 2020, sudah 3 bulan lebih kami tak pernah berwisata. Pernah sih, tapi kayak cuma di mobil aja, ke tol Cipularang. Hahaha. Sedih ya, Corona memang benar-benar merubah gaya hidup kita sepanjang tahun 2020, atau mungkin bisa sampai 2021.

Kami berangkat dari rumah pukul 05.45, langit masih biru gelap. Sudah membawa 3 bungkus nasi uduk hangat untuk dimakan di perjalanan. Maklum, bawa toddler harus siap dengan amunisi, takut di jalan ga ketemu orang jualan, atau ga sempat beli. Jadi harus disiapkan amunisinya sebaik mungkin. Kami memilih melewati jalur Dago. Bisa juga lewat jalur Setiabudi kalau mau lebih enak jalannya. Tinggal ikutin Google Maps aja. Jalur Dago lebih ekstrim dengan jalanan yang sempit menanjak dan agak berbatu, lumayan lah buat city car hehe. Tapi lebih bebas macet daripada jalur Setiabudi kayaknya ya.

Sampai di Lembang sekitar pukul 7 pagi, kami mampir di Indomaret untuk beli minyak kayu putih dan sarapan bekal nasi uduk. Nyuapin si kecil bisa hampir 1 jam, belom nemenin BAK ke toilet. Pokoknya kalo bawa toddler mah gitu, harus berangkat pagi dan siapin segalanya dengan lengkap.

Sampai di Orchid Forest sekitar jam 08.30 dan masih sepiii. Asyiikk. Masih beberapa mobil saja yang sudah datang. FYI pintu masuk dibuka jam 09.00. Tapi kalau parkir sudah open sebelum itu ya. Saya lupa mencatat harga tiket masuk. Yang jelas kami membayar Rp 152.000,- untuk 3 orang dan parkir mobil. Setengah jam menunggu, akhirnya kami masuk juga. Di masa pandemi ini, Orchid Forest banyak menyediakan tempat cuci tangan. Sebelum masuk, kami dihimbau untuk cuci tangan, kemudian diukur suhu badannya, diberi masker gratis, dan ada bilik penyemprotan disinfektan. Semua tahapan ini harus dilalui sebelum masuk ke dalam tempat wisatanya. Protokolnya ketat yah.


Orchid Forest Cikole ini tergolong tempat wisata baru di Lembang, karena baru diresmikan pada tanggal 24 Agustus 2018. Hampir 2 tahun yah. Jadi propertinya masih bagus-bagus. Saat masuk, kita langsung disajikan dengan spot foto bertuliskan "Wonderful Indonesia - Orchid Forest Cikole". Keren yaak! Kalo mau foto harus antri dulu. Tapi berhubung kita pengunjung terpagi, jadi antrinya ga perlu lama-lama. Yes!


Setelahnya, sebagian besar pemandangan disini adalah hutan pohon pinus dan rerumputan yang luas, terawat dengan baik. Sign system yang dibuat juga sesuai dengan temanya yang alami, tidak norak, pokoknya cocok deh. Buat yang pengen refreshing dari penatnya hidup, saya sangat merekomendasikan tempat ini. Segar, dingin, pemandangan hijau dimana-mana. Pun sangat terawat dan instagramable.


Selain hutan pinus, ada juga tempat bernama Orchid House, merupakan rumah kaca yang berisi koleksi anggrek umum sampai anggrek langka. Bagi pecinta anggrek, wajib mengunjungi tempat ini. Terdapat pula kolam ikan dan spot foto yang instagramable di dalamnya. Seru kann.


Spot terakhir yang tak kalah menarik adalah Sky Walk. Ini sih spot paling oke dan seru menurut saya. Tapi dia berbayar yah, dikenakan tarif Rp 20.000,-/orang free flying fox.  Anak saya berhubung masih 3 tahun jadi gratis. Tidak direkomendasikan buat yang takut ketinggian, hehe.


Sepulangnya dari sini, pengunjung mendapatkan fasilitas penjemputan ke area parkir kendaraan dekat pintu masuk. Karena pintu masuk dan keluar nya berjarak jauh sekaliii dan jalanannya menanjak. Sampai di area parkir kendaraan sekitar jam 11 siang, area sudah dipenuhi oleh mobil parkir sampai meluber-luber keluar, dan kebanyakan kendaraan luar kota. Wah, untung kita sudah selesai. Jadi saran saya kalau mau berwisata kesini, lebih baik berangkat pagi-pagi ya gaes. Siang dikit bisa penuh dan bisa-bisa gak dapet tempat parkir. 

Jadi sekian pengalaman yang bisa saya bagi. Kalo kesini jangan lupa pakai jaket dan sepatu kets, jangan seperti saya salah kostum pakai sandal. Soalnya medan jalannya naik turun dan licin. Udaranya pun dingin bangettt dan beranginnn, mirip kayak di Batu, Malang. Oke, terima kasih sudah menyimak. Yang mau berwisata tetep jaga protokol kesehatan yah!




FAMILY ROAD TRIP TO YOGYAKARTA


Akhirnya kesampaian juga liburan di tengah kesibukan kerjaan dan drama kantor. Hahaha. Liburan itu penting loh guys, buat refresh otak dan hati dari rutinitas sehari-hari yang itu-itu saja. Minimal, minimal loh yaaa, setahun sekali bareng keluarga, atau sama temen. Tapi kalo bagi saya sama keluarga, buat semakin mempererat  kebersamaan. Kalo sama temen jatohnya sunnah. Itupun kalo ada temennya, kalo ada duitnya, kalo ada waktunya, dan kalo gak digandoli sama suami dan anak. Duh susah ya jadi emak-emak.

Kenapa Yogyakarta?
Oke, jadi kali ini kami memilih Yogyakarta sebagai destinasi wisata kami. Sebenernya sih lebih karena Yogya merupakan salah satu destinasi wisata yang menarik di Indonesia, banyak yang bisa di-explore, dipelajari, dan kota yang menurut saya ramah wisatawan dengan harga yang terjangkau. Jarak Bandung-Yogya juga ga seberapa ya kan, bisa pakai moda transportasi apapun. Kali ini kami sengaja mau pakai mobil pribadi aja, biar enak kemana-mana, ga rempong, karena kami bawa toddler yang bisa mendadak cranky dimana saja. Wkwkwk. Dan kalau pakai mobil sendiri itu kita bisa nge-setting sendiri mau kemana, mau sampai jam berapa.

Persiapan
Dua minggu sebelum keberangkatan saya sudah booking 3 hotel yang berbeda. Karena rencananya kami akan stay 4D3N di sana. Hotel ditentukan sesuai dengan lokasi wisata yang ingin kita kunjungi. Jadi sebelum book hotel, kita susun itinerary dulu selama 4 hari disana mau ngapain dan kemana aja. Kalo udah, baru cari hotel yang dekat dengan wisata kita.

Seminggu sebelum keberangkatan, saya sekeluarga rutin minum multivitamin (kami minum Sambucol Family) dan makan yang bener, biar sehat terus sampai hari H. Karena kalau udah sakit pas mau liburan itu..wahh merusak mood banget deh, ga enak segala-galanya. Makanya saya paling concern masalah kesehatan keluarga kalo pas mau liburan. Gimana caranya jangan sampe ada yang sakit. Karena dulu pernah juga road trip ke Jawa Timur, kondisi anak lagi flu. Dan itu jadi kacau deh segala-gala, ga enak mood pokonya.

Persiapan lainnya ya standard sih barang bawaan seperti baju, camilan buat di jalan, kamera, stroller, dan sedikit oleh-oleh buat saudara di Magelang. Oh ya kami juga memasang kasur angin di jok belakang, biar anak bisa tidur pulas, sekalian bawa bantal, selimut, dan boneka kesayangan. Haha, mantab khan.

ITINERARY
DAY 1
Perjalanan Bandung-Yogyakarta
Berangkat dari rumah Bandung hari Sabtu pagi sekitar pukul 06.30, beli oleh-oleh sebentar, dan cuss kita masuk gerbang tol via Buah Batu. Jangan lupa isi e-toll ya guys, saya isi Rp600.000, nanti akan saya runut detail pengeluaran tolnya. Di tengah jalan di sekitar tol Cipali, mobil sempat mengalami masalah, tiba-tiba setir bergetar hebat saat digas dengan kecepatan 100-120 km/h. Suami langsung badmood dan stress, akhirnya kita melipir dulu ke service center di Cirebon, KM 190-an. Sampai di service center pukul 11.00, setelah dicek ternyata mobil harus di spooring & balancing. Waduh, kesalahan nih, belom ngecek kesehatan mobil. Haha. Akhirnya kita harus menunggu sampai jam 12 baru kelar deh. Jadi buat yang mau liburan road trip, jangan lupa cek kesehatan mobilnya ya!

Selesai servis, karena udah waktunya makan siang, akhirnya kita berhenti di Sop Ayam Pak Min Klaten, untung sejalur dengan arah ke gerbang tol. Dan Alhamdulillah anak saya mau makan, cucok banget deh Sop Pak Min, sayang di Bandung ga ada. Selesai makan, jam 1 siang kita lanjutkan perjalanan, dan sampai di gerbang tol Bawen sekitar jam 4 sore. Saya keluar gerbang tol Bawen karena ikut Google maps aja, soalnya destinasi wisata pertama kita mau ke candi Borobudur.

Detail biaya tol (nominal dibulatkan):
Buah Batu-Kalihurip        : Rp60.000
Cikampek-Palimanan       : Rp102.000
Palimanan-Kalikangkung : Rp215.000
Banyumanik-Bawen         : Rp44.000
Total                                  : Rp421.000 (kurang lebih)

Homestay Anugrah Borobudur
















Sampai di homestay sekitar jam 7 malam. Kita menginap di Homestay Anugrah, ga sampai 2 km ke pintu masuk candi Borobudur, karena rencananya kita mau ikut tour Borobudur Sunrise. Homestay ini enak banget, nyaman, berasa di rumah, daerah sekelilingnya juga enak, luas, ada Indomaret, ATM, dan pedagang kaki lima kalau mau beli makan tinggal jalan kaki. Malam itu kami jajan bakmi goreng dan nasi goreng, murmer buanget cuma 15ribuan porsinya buanyak banget dan rasanya ga usah ditanyaa!!

Oh ya, homestay ini kami book yang kelas Ekonomi 1 via Traveloka, harganya Rp188.000 saja. Fasilitasnya sarapan, amenities lengkap, air panas di termos, kopi teh gula, air putih, cuma dia pakai kipas angin yah, bukan AC. Tapi its okey kok. Tempatnya juga bersih banget, rapih. Recomended buat yang mau wisata ke Borobudur dengan harga terjangkau.

DAY 2
Wisata Borobudur Sunrise
Kami berangkat jam 03.45 menuju Manohara Resto untuk beli tiket Borobudur Sunrise. Sengaja emang, pengen ke Borobudur subuh-subuh, menghindari panas dan keramaian pengunjung, biar bisa puas foto-foto dengan menikmati udara segar. *tim anti panas-panas club. Dan saya juga bawa toddler, bisa kebayang capenya jagain toddler sambil panas-panas. Duh nyerah deh.

Harga tiket Borobudur Sunrise untuk wisatawan domestik adalah Rp350.000 udah include sarapan. Untuk tutorial Borobudur Sunrise ada disini ya. Kita naik candi pukul 04.30 setelah solat Subuh. Rasanya gimana gitu, menapaki tangga candi Borobudur dengan kegelapan di subuh, wah ga bisa dibayangin dengan kata-kata pokonya. Sampai di stupa paling atas, sudah banyak turis disana, kebanyakan didominasi oleh turis asing. Turis lokalnya cuma bisa dihitung dengan jari, haha, saya jadi berasa wisata ke luar negeri.
Dan ternyata hari itu kami semua lagi ga hoki, karena sunrise nya ga keliatan, langitnya mendung. Tiba-tiba udah terang aja langit. Akhirnya yaudah kami poto-poto di sekitar candi, mumpum sepi pengunjungnya, dan cahayanya pas bagus. Turun dari candi sekitar pukul 06.30, kami menuju Manohara Resto dan sarapan disana. Sarapannya enak banget khas hotel bintang 4.

Kelar sarapan, kami berjalan-jalan mengelilingi area taman di sekitar candi. Enak banget suasananya, area tamannya luas, aspalnya bagus, pemandangan hijau, dan ternyata juga ada penangkaran gajah dan rusa. Anak saya suka sekali melihat gajah, dan memberi makan rusa. Rusanya jinak sekali, dikasih makan rumput langsung mau. Wkwkwkw.
Puas jalan-jalan mengelilingi area Borobudur, kami cuss balik ke homestay. FYI, area parkir untuk wisatawan Borobudur Sunrise ini sangat luas dan tidak terlalu padat, jadi enak banget, karena pintu masuknya juga berbeda dengan pintu masuk yang reguler. Jadi mungkin areanya khusus ya, pas kami keluar gerbang juga santai, tanpa antri dan bayar, langsung aja keluar gitu. Kemudian saat kami melewati gate reguler, woaahhh di dalamnya padat sekali, banyak bus-bus wisata dan mobil serta orang jualan gitu, semacam chaos. Jadi bayar mahal untuk Borobudur Sunrise menurut saya worth it yah dengan fasilitas seperti ini.

Hotel Satoria
Kelar check-out dari homestay, kami lanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta karena destinasi selanjutnya adalah candi Prambanan. Sebelum ke Prambanan, kami check-in dulu ke hotel Satoria, yang letaknya tidak jauh dari candi Prambanan, sekitar 11 km tapi ngga macet yah. Hotel bintang 4 yang meraih Award Top Choice of Agoda Travelers 2018 ini sedang di-diskon gede banget dengan rate 200ribuan. Murah khaann. Padahal rate aslinya bisa 1 jutaan, lumayan pas ada promo di Agoda jadi langsung cuss booking. FYI setelah proses booking ketambahan biaya pajak dll jadi 400ribuan, tapi ngga papa, masih sangat worth it untuk hotel mewah sekelas Satoria ini. Kami pesen kamar tipe Superior King Room. Kamarnya nyaman, yah standard bintang 4 lah ya. Kasur gede empuk, ada sofa panjang, amenities lengkap, kulkas, safe deposit box, hair dryer, kopi teh gula, air mineral, electric kettle, dan TV.

Candi Prambanan
Setelah gogoleran sebentar di kamar dan makan siang via Gofood, jam 2 siang kami berangkat menuju Candi Prambanan. Perjalanan hotel Satoria ke Prambanan hanya memakan waktu sekitar 20 menit saja. Sampai disana, parkirannya sangat luas dan lega, jadi ngga usah khawatir ga kebagian parkir. Sebelum beli tiket masuk, kami solat Ashar dulu supaya lega nanti ye kan jadi bisa explore sepuasnya kalo udah sholat. Tiket masuk ke Candi Prambanan (Sept 2019) adalah Rp50.000 untuk wisatawan domestik dewasa. Anak saya gratis karena masih di bawah 3 tahun. Oh ya, jangan lupa bawa stroller ya kalau anaknya masih toddler dan anda malas menggendong, soalnya area Candi Prambanan ini luas banget, tapi stroller friendly.
Kami menghabiskan waktu sampai jam 17.30 di candi ini. Karena secantik ituh, seluas ituh, dan senyaman ituh buat wisatawan. Dan memang sengaja menunggu sunset untuk pepotoan. Wah keren banget sunsetnya, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Pokoknya klo wisata ke candi, saran saya pagi-pagi sekali, atau sore sekalian sampai sunset. Dapet nyamannya, dapet udara segernya, dapet viewnya, dapet foto kerennya.
Berjalan menuju pintu keluar, kita disuguhi dengan berbagai toko oleh-oleh khas Jogja. Mulai dari batik, baju bertema Prambanan, gantungan kunci, magnet kulkas, aksesoris, tas, alat musik, hiasan dinding, dan banyakk lagi macamnya, harganya juga murmer abiss. Gantungan kunci cuma seribuan. Kami belanja baju, gantungan kunci, dan alat musik buat mainan anak. Overall, candi Prambanan ini sangat-sangat layak dan recomended buat dikunjungi. Terutama di sore hari, karena sunsetnya sebagus itu, matahari ada di balik candi dengan sinar mega merah yang sangat indah. Aduh, saya gagal move on!

DAY 3
Taman Tebing Breksi
Keesokan harinya, kami berencana ke Tebing Breksi pagi-pagi sekali. Kami berangkat jam 6 pagi dari hotel, tujuannya cuma satu, supaya gak panas-panasan disana. *tim anti panas-panas club. Lokasi tebing Breksi dekat juga dengan candi Prambanan. Tiket masuk (parkir) Rp15.000 (Sept 2019). Jalan menuju tebing Breksi ini cukup menanjak ya guys, jadi harus pakai gigi rendah. Makanya sebenernya enakan kesana pagi-pagi banget, biar jalanan sepi, karena kalo nanjak dan rame itu yaah menakutkan, hehe.
Hari itu Senin pagi, dan pengunjungnya cuma kami, jadi bisa puas pepotoan, serasa tebing Breksi hanya milik kami. HAHAHA. Tebing Breksi ini merupakan area bekas penambangan, dan disulap jadi tempat wisata yang oke. Di spot pertama ada kolam ikan, ikannya banyak banget, anak saya suka sekali ngasih makan ikan. Namun ada yang membuat kami sangat sedih, kolam ikan satunya yang ada di balik batu, banyak sampah plastik dan tutup botol air mineral, padahal disitu banyak ikannya. Rasanya kontras gitu, ingin marah sama wisatawan yang ga punya hati, bisa-bisanya buang sampah di kolam. Sedih banget loh guys, klo kalian jadi wisatawan please jaga dan sayangi tempat wisata dan makhluk yang hidup di sekitarnya.

Puas bermain di kolam ikan, kami naik ke atas tebing, lumayan cape juga karena tinggi banget untuk sampe ke atas. Di atas banyak sekali spot foto yang bagus meskipun agak alay. Spot foto yang dibuat-buat gitu seperti outdoor photo studio lengkap dengan propertinya, seperti angel wings, sepeda, kursi, pintu langit, dll. Kebayang kan yah. Jadi yang pepotoan disini dapet view langit yang keren, seperti foto di atas awan. Gitu. Selebihnya sih ya cuma tebing biasa.

Setelah kurang lebih 1 jam kami explore dan pepotoan di tebing Breksi, kami pun kembali pulang ke hotel untuk sarapan, packing, dan check out. Sarapannya enak banget, mirip seperti di Manohara, sarapan khas hotel bintang 4. Pokonya hotel Satoria ini recomended buat yang mau wisata ke candi-candi di Yogya dan tebing Breksi.

Tempo del Gelato Prawirotaman
Setelah check out, kami melanjutkan perjalanan ke pusat kota Yogyakarta. Berhubung siang itu sangat panas, kami mendinginkan diri dengan makan es krim di Tempo del Gelato, daerah Prawirotaman. Es krimnya enak banget, untuk small cup harganya Rp20.000 dengan 2 macam varian rasa yang bisa dipilih. Small cup bagi saya sudah lebih dari cukup sih, karena isinya lumayan banyak. Oh ya, untuk yang bawa mobil, bisa parkir di seberang kedai ini ya, ada keterangannya kok "tempat parkir pengunjung Tempo del Gelato" gitu. Soalnya pas pertama kesana kami bingung, jalannya sempit dan seperti tidak ada parkiran mobil. Tapi ternyata ada, maju dikit di seberangnya.

Keliling Area Keraton dengan Becak Motor
Kelar makan es krim, sambil menunggu waktu check-in hotel selanjutnya, kami memutuskan untuk jalan-jalan keliling area keraton naik becak motor. Saat kami parkir di dekat pintu masuk keraton ada kang becak yang menawarkan diri untuk mengantarkan kami keliling area sekitar keraton sekalian kalau mau beli oleh-oleh, gitu katanya, harganya cukup Rp20.000 saja. Ya sudah, langsung kami iyakan. dan kami pun diantar dengan destinasi pertama adalah toko oleh-oleh Bakpia 99. Kami beli 3 box bakpia yang masih hangat.Destinasi kedua adalah toko kaos khas Jogja yang menurut si kang becak, ilustrasinya merupakan karya asli abdi dalem keraton. Yasudah kami pun menurut beli kaos buat anak dan ayahnya. Harganya lumayan juga, kaos anak 50ribuan, kaos dewasa 85ribuan ke atas. Kalo menurut saya malah desainnya standard aja sih, bahan kaosnya tapi lumayan bagus. Its okey, lumayan buat kenang-kenangan dari Jogja.
Destinasi ketiga adalah toko lukisan gitu, karya lukisan para abdi dalem. Lukisannya lebih ke budaya-budaya gitu, ada asmaul husna juga sih. Akhirnya kita cuma lihat-lihat saja sambil mendengar penjelasan pemilik toko. Dan selesailah perjalanan bersama kang becak. Kita berhenti di dekat alun-alun utara, disini ada penjual batik pinggir jalan, saya beli 1 batik untuk anak saya, harganya Rp35.000. Pas liat cocok langsung gercep beli, takut ga ketemu lagi yang cocok, dan siang itu panass bangett jadi musti cepet. Kelar beli batik, kami sholat dulu di Masjid Gedhe Kauman, masjid kesultanan Yogya yang arsitekturnya 'jawa' banget. Selesai sholat, kami naik dokar menuju parkiran mobil tadi. Karena itu tengah hari banget, dan rasanya udah ga kuat lagi buat jalan kaki ke parkiran, yaudah kita putuskan naik dokar sekalian pengalaman baru buat anak. Tarif dokar adalah Rp50.000, padahal deket. Yasudahlah ya, wkwkwk.

YATS Colony
Jam 14.30 kami tiba di hotel selanjutnya, YATS Colony. Hotel bintang 3 yang ngehits banget di Jogja, yang mana tamu-tamunya kadang berasal dari artis ibukota. Meskipun bintang 3, tapi hotel ini rate harganya agak mahal juga. Kami booking tipe RA Room, yang pool view lantai 2, dengan rate Rp735.000 (udah sama diskon di Booking.com) per malam. Meskipun mahal, tapi hotel ini keren bangeettss arsitekturnya, perkawinan seni kontemporer dan budaya lokal Jawa. Jadinya ya gitu deh, memanjakan mata banget, meskipun areanya kecil tapi nyaman dan homy abis. Kamarnya didesain sedemikian rupa, perintilannya pun juga aduh ciamik dan cantik, ngga seperti hotel standar gitu, dan dia less plastics loh. Tidak menggunakan air mineral botolan, tapi lebih memilih botol dan gelas kaca serta bisa diisi ulang di dispenser yang disediakan di luar kamar. Keren kan. Tidak disiapkan kopi teh gula di kamar, tapi disiapkan di luar dekat dispenser dengan memakai toples gitu, jadi tamu bisa ngeteh atau ngopi sepuasnya. Ini hal sepele, tapi bagi saya menyentuh. Amenities pun lebih lengkap daripada hotel bintang 4 sebelumnya. Ada sisir, alat cukur, dan pasta giginya pakai Pepsodent dong! Biasanya kan pasta gigi kecil tanpa merk gitu wkwkwkwk. Sandalnya juga ngga abal-abal kertas putih tipis, tapi kayak sandal swallow gitu warnanya kuning. Ahhh so sweet.

Yang enak lagi itu juga bednya, jadi ga semata cantik di mata, tapi kenyamanan tamu itu benar-benar diperhatikan. Bed nya, aduhh saya ga bisa berkata-kata, empukkk buangett. Sekali rebahan susah buat bangkit lagi. HAHAHA. Lebay luuuhh. Tapi emang senyaman itu guys. Swimming pool nya juga asyik, meskipun kecil tapi cukup lah, ada kids pool nya juga, dikelilingi dengan tanaman hijau rimbun gitu. Trus kalo untuk breakfast menurut saya standard aja sih, taste nya standard, masih enak hotel-hotel sebelumnya. Overall sih bagi saya ini enak dan nyaman buat stay dan pepotoan, banyak spot instagramable.

Malioboro
Malamnya rencana kita mau jalan-jalan ke Malioboro terus kulineran gudeg mercon. Tapi setelah sampe Malioboro ternyata waduh chaos banget, susah cari parkiran. Akhirnya kita cuma bentaran aja di sini, pepotoan di perempatan deket bank BNI dan kantor pos. Ajubileee rame banget, padahal ini Senin malam lho. Dan memang kata temen yang warga Jogja, Malioboro memang selalu ramai tak mengenal hari. Makanya mereka malas kalo malem-malem keluar ke Malioboro. Ohh, jadi begitu, baru tau saya. Akhirnya keinginan pepotoan di plang Jl. Malioboro harus pupus. Keinginan belanja juga pupus. Untung kemarin udah beli baju Jogja. jadi ga terlalu nyesel ga jalan-jalan di Malioboro. Karena emang seramai itu, jadi mager, apalagi bawa toddler.

Gudeg Mercon bu Tinah
Setelah dari Malioboro, kita ke Gudeg Mercon bu Tinah, kuliner legendaris di Jogja yang baru buka jam 21.00. Saya taunya dari Youtube nya Nex Carlos, jadi cuss deh kesitu. Pas nyampe sana masih jam 20.45, tapi antriannya udah panjang. Waooww. Setengah jam kemudian akhirnya kita bisa cicipi juga nih gudeg, mereka menyediakan tikar-tikar di sekitar trotoar, jadi makannya di pinggir jalan gitu. Menurut saya gudegnya emang enak banget tapi pedesnya itu wow sih, saya ga habis saking pedesnya. Tapi kata suami, pedesnya ga terlalu. Dan emang nagih, rasanya terngiang-ngiang meskipun pedes, wkwkwk. Mereka juga menyediakan lauk lainnya seperti sate ayam, ceker, tempe goreng, dll. Saya cobain sate ayamnya, enakk banget bisa buat tombo pedes, sambil menyeruput teh manis hangat, uuww mantaab.

DAY 4
Beli oleh-oleh di Mamahke Jogja
Pagi harinya, kami sempatkan renang dulu sebelum packing dan sarapan, yah gak mau rugi lah ya udah bayar mahal masa fasilitasnya ga dicobain satu-satu. Kami check-out dari Yats sekitar jam 8.30 pagi, karena hari ini sudah saatnya pulang ke Bandung. Sebelum pulang, kami mampir ke toko oleh-oleh Mamahke Jogja milik Zaskia Mecca. Beli kue Mamahke, dan snack-snack UKM macam keripik usus dan wader. Harga kue Mamahke adalah Rp60.000, sedangkan snack UKM nya kisaran Rp25.000. Lumayan juga ya harganya, tapi gapapalah, mumpum di Jogja, besok-besok harus hidup hemat lagi. HAHA.

Kalo menurut saya sih rasa kuenya enak standar aja, dia semacam bolu kotak yang di dalamnya ada pastry dan coklat. Coklatnya lumayan enak sih tapi. Yang lebih enak lagi ternyata snack UKM nya, ga salah harganya segitu, rasanya emang mantab abiss, cocok buat camilan di perjalanan mengusir rasa kantuk.

Perjalanan Pulang
Kelar beli oleh-oleh, kami langsung pulang. Masuk melalui gerbang tol Boyolali, berikut rincian biaya tol:
Boyolali-Banyumanik          : Rp61.500
Kalikangkung-Palimanan     : Rp212.500
Palimanan-Cikampek           : Rp117.000
Kalihurip Utama-Buah Batu : Rp45.000
Total                                      : Rp436.000

Untuk bensin, saya lupa menghitung tapi kalau ga salah ingat, kita habis 1 jutaan PP dan keliling kota Yogya selama 4D3N. Jadi total biaya transport adalah hampir 2 juta ya untuk bulan September 2019.

Ex Pabrik Gula Banjaratma (KM 260 arah Bandung)
Kami sempat mampir di Brebes untuk beli telor asin bakar, karena emang udah direncanain dari awal, pulangnya mau beli. Bukan keluar tol ya, tapi kami melipir di rest area KM 260 di kota Brebes. Di pinggir tol ada iklan telor asin YES, jadi langsung cuss. Dan ga taunya, rest area ini ternyata keren bangeet meen. Ada bekas bangunan pabrik gula yang direvitalisasi jadi tempat untuk berjualan, namanya ex pabrik gula Banjaratma. Dalamnya sangat luasss, sampe ada kandang burung sebesar di kebon binatang. Pokoknya keren banget, banyak spot foto instagramable. Ada juga masjid yang arsitekturnya disamain dengan bangunan pabrik, ada lokomotif jadul sebagai hiasan di sebelah masjid. Keren lah pokoknya. Di dalamnya banyak kios yang berjualan oleh-oleh khas Brebes, seperti telor asin, bawang merah, dan oleh-oleh khas Jawa Tengah lainnya. Ada juga kios makanan, bazaar baju, Indomart, dan Alfamart, lengkap lah pokoknya, tapi sayang kami disana pas siang, jadi agak panas karena di dalamnya pake kipas angin.

Selesai beli telor asin bakar, kami melanjutkan perjalanan pulang, dan sampai di gerbang tol Buah Batu sekitar jam 7 malam. Sampai rumah jam 8 malam, gara-gara macet di Bandungnya. Kata suami, nyetir di tol malah ga kerasa capek sama sekali, capeknya malah pas nyetir di dalam kota Bandung. Hadeuh, semacet ituuh kota Bandung saat ini..

Alhamdulillah, sampai rumah dengan selamat, dan sudah bisa dipastikan saya gagal move on dari liburan ini. Jadi sekian yah cerita perjalanan yang bisa saya bagikan, semoga bermanfaat bagi siapapun yang sedang merencanakan family trip ke Jogja, bisa dicontoh itinnya, dijamin enak mantab! Selamat berlibur!

HOLI'YAYS' : Explore Waduk Jatiluhur with Toddler (Purwakarta, Jawa Barat)

"I need a six months holiday twice a year" - purehappylife.com

Quotes di atas sangatlah menyenangkan kalau bisa direalisasikan. Sayangnya, hidup tak seperti yang kau inginkan. Seandainya uang bisa jatuh dari langit, holiday adalah a first thing that i choose to spent in my whole life. Hahaha.

Oke stop. Selesai berkhayalnya. Kali ini saya pengen menceritakan liburan saya bersama suami dan anak saya yang masih toddler ke Waduk Jatiluhur di bilangan Purwakarta, Jawa Barat. Sekalian kepengen sharing aja gimana sih kalau kita rekreasi sambil bawa toddler. Apa saja yang harus disiapkan. Cuss lanjut.

Melawan Gravitasi di Puncak Gunung Prau

Gunung Prau. Ya, adalah sebuah gunung yang cantik dan terletak di dataran tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Mengapa disebut Prau? Berbagai sumber mengatakan bahwa bentuk gunung ini mirip dengan perahu yang dibalik, dimana puncaknya memiliki dataran yang cukup luas. Sehingga cocok untuk digunakan camping bagi para pendaki. Dari puncak gunung Prau, kita bisa melihat 3 gunung cantik: Merbabu, Sumbing, dan Sindoro. Jika beruntung, kita pun bisa menikmati sunrise di pagi hari.

Sisi lain Pengalaman Travelling (Transport)

Kali ini saya pengen menceritakan pengalaman pribadi mengenai "bepergian dengan menggunakan pesawat" dan juga fitur web check in yang katanya "praktis". Jadi ceritanya, kemarin saya mengikuti acara reunian kecil-kecilan barengan temen semasa kuliah di Bromo. Mereka berangkat dari Malang hari Sabtu pagi-pagi sekali. Otomatis saya harus terbang ke Malang sebelum itu. 3 hari sebelumnya, saya sudah booked tiket Air Asia PP Bandung-Surabaya. Tiket yang saya dapatkan lumayan murah, mengingat waktu yang mendadak, PP saya merogoh kocek 1.105.000 untuk tiket pesawat "saja".

Pesawat ke Surabaya take-off hari Jumat jam 19.20, otomatis saya harus mengebut setelah pulang kantor. Pulang jam 16.30 saya langsung cuss naik ojek ke bandara dengan sudah membawa seransel baju hangat dari kos tentunya. Perjalanan kantor (Cisitu) - Bandara Husein makan waktu 20menit dengan ojek motor, biaya 35.000. Sampai di bandara saya masih sempat makan malam dan kemudian cek in! Karena saya sudah merasa membawa boarding pass dari web check in, jadi saya langsung aja nyelonong ke lantai 2 untuk menuju tempat tunggu terakhir. Ternyata eh ternyata, saya yang belum pernah naik pesawat dari Husein, oleh petugas disuruh balik ke counter check-in untuk bayar airport tax. Oh, iya ya, bandara di Indonesia masih pake tax, kirain kalo udah web check-in udah langsung nyelonong.

Saya jadi mengingat-ingat kembali, perasaan terakhir naik pesawat waktu itu udah web check-in dan ga perlu ke counter di bandara, langsung ke ruang tunggu. Terakhir naik pesawat adalah ketika saya ke Singapore dan Malaysia. Hmmm.. Baiklah.. Tiba di Surabaya sekitar pukul 20.30 di Terminal 2 Juanda. Nah lhoo?? ini terminal baru ya?? *ndeso. Dan memang saya baru tau kalo Juanda punya terminal 2. Terakhir saya terbang di Juanda, masih satu terminal semuanya. Terminal 2 masih terbilang sepi, namun luasnya kurang lebih sama dengan T1. Akhirnya saya berjalan keluar, dan mencoba mencari travel menuju Malang. Berdasar pengalaman di T1, travel menuju Malang ataupun daerah lainnya biasanya "pating tlecek" di luar terminal, bahkan mereka menawari kita. Malam itu memang sengaja saya tidak book travel karena udah sok yakin gitu, bakal nemu travel langsung ke Malang. Dan ternyataaa.. di T2 sepi! Ga ada travel yang ramai2 kayak di T1 gitu. Adanya taxi bluebird dan travel eksklusif yang mungkin udah di booking penumpang sebelumnya. Uappaaahh?? Trus gimana nasib saya nih, pikir saya waktu itu. :((( Akhirnya saya tanya2 ke orang2 travel sekitar luar situ, "Pak, ada travel ke Malang gak yah?" trus mereka carii dn cari.. awalnya bilang ga ada dan saya udah hopeless..mungkin bisa naik DAMRI di Bungurasih, tapi serem juga klo udah male gini kan. Akhirnya setelah dicarikan lagi, mereka nawarin ada travel ke Malang, dengan biaya 150.000!! Bujubuneeeenggg..kampret dah..travel Juanda-Malang yang biasanya berkisar 70-80rb jadi naik dua kali lipat gini. Setelah coba aku tawar, ternyata mereka ga mau turun, dan yaudah, daripada saya debat panjang dan gabisa pulang ke Malang, aku iyakan aja. Mendesak. Dasar travel calo. :(

Setelah itu saya dijemput dan dioper ke mobil travel sesungguhnya. Di dalam perjalanan, karena saya penumpang yang turun paling akhir, saya sempat mengobrol dengan pak sopirnya. Dia tanya berapa tarif travel yang saya bayar. Dan dia kaget setelah saya kasih tau. Padahal travel nya hanya memungut biaya 80rb untuk Juanda-Malang, katanya saya kena calo. Si pak sopir merasa kasian ke saya dan akhirnya dia kasih kartu nama kantornya (King Travel) agar saya langsung telpon saja jika sewaktu-waktu butuh travel Juanda - Malang PP jam berapapun. Mereka online 24 jam. Ya ampun.. perasaan saya antara sedih dan senang. Sedih karena merugi dan ditipu calo, senang karena akhirnya berkat pengalaman ini, saya jadi tau kontak travel jika lain kali saya membutuhkannya. Memang, pengalaman adalah guru paling berharga.

Cerita saya persingkat sampai perjalanan pulang. Flight saya ke Bandung adalah hari Minggu dengan boarding pukul 20.20 WIB. Saya baru turun dari Bromo adalah jam 14.30 yang rencana awalnya adalah siang ba'da dhuhur. Rencana awal, pulang Bromo siang, sampe Malang sore, dan langsung cuss Juanda, jadi pas nyampe langsung check-in. Namun semuanya jadi melambat, sampe Malang jam 16.30. Teman saya yang sebelumnya menjanjikan untuk mengantar ke Juanda, ternyata oh ternyata mobilnya dipake ayahnya untuk keluar. Jadilah kami panik. Karena dari awal, hitungan saya adalah dengan boarding pukul 20.20, maka cek in adalah minimal satu jam sebelumnya, yaitu pukul 19.20, jadi saya menargetkan jam 19.00 udah di bandara. Perjalanan Malang-Juanda kurang lebih 2 jam jika lancar. Maka paling lambat jam 17.00 udah harus cuss. Akhirnya kami meminjam mobil teman dan berangkatlah kami pukul 17.00 dari rumah temen saya, itupun masih mampir masjid untuk sholat ashar, mampir pom bensin dan mushola yang ternyata penuh dan akhirnya ga jadi. -_-

Waktu terus berjalan seakan tiada ampun untuk menunggu kami. Hati saya sudah ketar-ketir sejak berangkat, bahkan sejak mengetahui mobil teman saya dipakai. Bayangan saya akhirnya kembali ke masa dulu yang pernah satu kali ketinggalan pesawat ketika saya masih kerja di Jakarta. Daannn sakitnya tuh disini.. :'( Trauma, saya sangat trauma ketinggalan pesawat. Rasanya seperti ditinggal pacar, galau dan bisa sampai menangis panik di bandara, itu yang saya lakukan dulu ketika ketinggalan. Makanya, saya tak ingin itu terulang, sejak itu saya selalu berangkat awal ke bandara, mau menunggu berapa jam pun di bandara saya ga masalah, yang penting ga telat.

Sesampainya di Lawang adalah sekitar pukul 18.15 dan jalanan macet total. Bertambahlah galau saya. Macet selama kurang lebih 15 menit ini disebabkan adanya kecelakaan motor. Untungnya, kecelakaan terjadi di sisi jalan arah Malang, jadi kita hanya kejebak sebentar lalu lancar setelah melewati lokasi kecelakaan. Dari situ kita langsung ngebut, bahkan kami pun juga masih bingung jalan ke arah Juanda harus lewat mana, apalagi ada terminal 2 yang baru. Melewati tol Waru menuju T2 ternyata lokasinya berbeda dari T1, kita masih melewati T1, lalu keluar lagi dan masuk ke kampung penduduk, lalu ada petunjuk arah ke T2. Dan saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 20.15. Saya sudah menyerah, hopeless. Jadi teman saya, saya suruh agar tak usah mengebut lagi karena percuma, sudah telat. Boarding jam 20.20 dan kita masih baru masuk gerbang T2. Namun teman saya tetap mengotot, ngotot ngebut, meyakinkan saya bahwa masih bisa, mungkin maksudnya lebih ke 'menghibur' kali ya. Hahaha. Saya pun sudah merancang strategi untuk beli tiket lagi ke Jakarta yang penerbangannya lebih banyak daripada Bandung, mungkin masih ada sisa nanti malam atau besok Subuh, pikir saya, semoga saja. Karena kalau ke Bandung paling pagi pun jam 11 siang. Jadi saya pasti telat masuk kantor. :(

Sampai di depan T2 pukul 20.30 saya pun pamitan dan beranjak pergi dengan sudah tak ada gairah untuk masuk ke dalam. Langkah saya perlambat, berjalan santai dengan rasa hopeless yang menyakitkan. Berjalan pelan menuju ke dalam, saya coba saja masuk dan berjalan ke arah counter check-in Air Asia yang seperti sebelumnya sudah saya duga, counter Bandung sudah tutup. Saya pun mencari-cari counter penjualan tiket, karena rencana saya mau beli ke Jakarta malam itu juga, berapapun harganya. Kemudian masih di dalam antrian check-in tsb, saya mendengar suara petugas, "Bandung...Bandung...!" LHOOOHHH??????

Mata saya membelalak dan jantung rasanya mau copot, tak percaya check-in Bandung ternyata masih buka. Saya pun bergegas tanya ke petugas "Loh Pak, Bandung masih bisa?" katanya masih bisa, dan pak petugas melirik boarding pass yang sudah lecet di tangan saya dan berkata "Mbak udah web check-in kan, yaudah ga papa, masih bisa, kan tinggal bayar airport tax. Ga ada bagasi kan?" ALHAMDULILLAHHHH... Mimpi apa aku semalam??? Yang rasanya sudah hopeless menyakitkan tiba2 saja Allah memberi saya jalan dan kesempatan untuk bisa terbang malam itu! Rasanya hati ini tak karuan.. Terimakasih ya Allah..

Kemudian saya diarahkan ke counter check-in Kuala Lumpur yang kosong, disana saya bayar airport tax sebesar 75.000,-. Dan ternyata mas-mas yang antri depan saya tadi juga ke Bandung, jiaahhh sama aja ternyata. Haha. Setelah bayar tax, saya pun langsung lari kelimpungan ke lantai 2 menuju Gate 6. Terdengar suara petugas "Ayo..Ayo..Bandung..segera.." bwuaaahhh hati saya rasanya tak karuan, kaki pun saya paksa untuk berlari lebih kencang. Sampai di lantai 2 terdengar suara speaker petugas, memanggil para penumpang penerbangan Bandung untuk segera memasuki pesawat. Langkah saya untuk berlari makin saya percepat, masa bodoh orang-orang mau melihat apa. Masuk ke area gate, ternyata Gate 6 adalah gate paling ujung. Wadaauuuwww..sakitnya tuh disini. Hahahaha. Dan ternyata di pintu masuk Gate 6 masih ada beberapa penumpang yang berjalan, akhirnya saya melambatkan langkah dan berjalan dengan ngos-ngosan.. "sudah ada teman sesama penumpang" pikir saya. Huuufftt. Dan akhirnya saya pun memasuki pesawat bersama dengan penumpang lainnya. Ternyata mereka juga baru masuk, jadi saya memang passs bangeeet timing nya. Tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Hahaha. Jadi pengalaaman ini sangat berharga untuk ke depannya, beberapa kesimpulan yang saya dapat dari sisi lain perjalanan traveling yang wajib pembaca ketahui adalah:

TRAVEL JUANDA RECOMENDED
Jika anda terbang menuju Juanda, tapi belom memesan travel untuk menuju kota Anda (terutama Malang) dan masih bingung mau naik apa, demi menghindari calo travel yang mahal, maka disini saya sarankan Anda untuk memakai jasa King Travel. Adalah travel yang online 24 jam dan siap mengantar Anda jam berapapun saat anda membutuhkan. Biaya 80.000 saja untuk ke Malang kota.
Call : 0341-335858;333358;5345757
          081 334 769 304
          081 2333 43337
Hot Line Juanda - Surabaya 081 23369 8989
PIN BB 29891291
Melayani : Malang - Juanda PP
                  Malang - Surabaya PP
                  Malang - Perak PP
                  Carter segala jurusan
                  Paket Pariwisata
                  Rent CarWeb Check-in

WEB CHECK-IN
Mengenai web check-in disini saya bagi menjadi tiga yaitu web-check in Air Asia penerbangan domestik, Air Asia penerbangan internasional, dan Tiger Air Kuala Lumpur. Ini semua berdasarkan pengalaman saya.
1. WEB CHECK-IN AIR ASIA PENERBANGAN DOMESTIK
Untuk penerbangan domestik, meskipun kita sudah memiliki boarding pass sendiri, tapi kita masih diharuskan membayar airport tax di bandara. Keuntungannya, kita tidak perlu datang 1-2 jam sebelum keberangkatan untuk mengantri check-in. Penumpang yang telah memiliki boarding pass dari web check-in ditoleransi maksimal 30 menit sebelum keberangkatan. Lebih dari itu sudah tidak bisa karena close gate adalah 20 menit sebelum keberangkatan. Keuntungan lain web check-in adalah nama kita sudah muncul di manifest. Lebih bagus lagi jika di bandara tsb ada counter khusus untuk yang sudah web check-in. Jika tak ada, biasanya sih pakai counter Air Asia apa aja, yang penting kita bayar tax nya. Sayangnya, jika anda memiliki bagasi, maka meskipun sudah web check-in, Anda tetap harus datang normal seperti orang check-in di bandara, karena bagaimanapun juga, barang bagasi Anda harus melewati proses untuk masuk ke bagasi pesawat, jadi yang punya bagasi tetap harus datang awal 2-3 jam sebelum keberangkatan. Namun jika Anda benar-benar terlambat, maka bagasi Anda harus ditinggal dan akan diangkut di flight berikutnya, yang berarti nanti Anda harus menunggu di bandara tujuan untuk mengambil bagasi Anda. Hahaha.

2. WEB CHECK-IN AIR ASIA PENERBANGAN INTERNASIONAL
Saya baru satu kali saja merasakan penerbangan internasional, jadi jika tulisan ini masih ada salah dan perlu koreksi, silahkan dikomen, hehe. Saya hanya ingin berbagi pengalaman saja untuk para pembaca. Pengalaman saya yang satu kali itu adalah terbang dari T3 Soekarno Hatta menuju Singapore tanpa bagasi, dengan boarding pass sudah di tangan melalui web check in.  Tiba di T3, anda tidak perlu check-in di lantai bawah. Langsung saja naik ke Lt.2 dan masuk menuju ruang tunggu penerbangan internasional. Di sana nanti akan ada petugas untuk mengecek kelengkapan dokumen Anda (boarding pass dan passport) serta membayar airport tax sebesar 150.000,-

3. CHECK-IN TIGER AIR KLIA2 (Kuala Lumpur)
Saat perjalanan pulang Kuala Lumpur-Jakarta saya tidak memakai fasilitas web check-in (seingat saya). Jadi, saya tetap datang awal ke bandara. Yah..namanya di luar negeri dan mau flight ke negara sendiri, masa iya kita harus bertelat-telat ria untuk ke bandara. Jangan doongg. hehe. Kecuali bagi yang sudah biasa dan rutin perjalanan internasional, jadi bisa mengira-ngira sendiri waktunya. Yang waktu itu bikin ketar-ketir adalah uang saya tinggal sedikit, jadi harus hutang dulu untuk membayar airpot tax. Dan ternyataaa.. bandara di KLIA2 sudah tidak menerapkan bayar tax di bandara. Tax sudah include dengan harga tiket. Andai di Indonesia seperti itu yaaa..








Menyusuri Jalanan THR (Taman Hutan Raya) Ir. H. Djuanda

Saat itu hari Minggu yang cerah, dan saya kedatangan tamu 'spesial' dari Jakarta. Teman saya yang bekerja di Jakarta, datang ke Bandung untuk berlibur. Kesempatan ini tak saya sia-siakan untuk hanya berjalan ke mall, karena di Jakarta pun yang namanya mall sudah tumpah ruah. hehehe. Saya pikir pergi ke tempat yang bernuansa alam akan lebih menyenangkan daripada jalan ke mall mulu. :D Betul kan betul kan? Lagipula di kota sepadat Jakarta, susah banget nemuin tempat-tempat bernuansa alam..

Yep! Siang itu akhirnya saya putuskan untuk mengajaknya ke THR Djuanda di kawasan Dago, Bandung. Sebenarnya kami dulu sudah pernah kesana sekali, di tahun 2010, tapi hanya sebentar. Meskipun kali ini bulan puasa, tak menghalangi kami untuk menjajaki taman hutan yang sangat besar tersebut. Selidik punya selidik, ternyata saya baru tau kalo di sana ada air terjun! Yaaaa lama sekali saya tak melihat air terjun sejak saya masih tinggal di Malang hampir 2 tahun yang lalu! T_T
Ternyata benar pun, di papan sign system ada petunjuk menuju air terjun. Ada 3 air terjun kalo ingatan saya tidak salah, dan jaraknya ada yang dekat ada yang jauh *menurut peta. Akhirnya dengan semangat 45 saya dan teman saya berjalan menyusuri jalan setapak hutan-hutan di taman itu.


Sialnya, saya memakai sepatu flat yang tidak cocok untuk naik gunung..cocoknya buat ngemall..hehehe..dan ternyataaa perjalanan menuju air terjunnya sangat jauhhhh. Setelah melewati goa Belanda, akan ada sign system menuju 3 air terjun tadi. Air terjun tersebut adalah:
1. Curug Omas
2. Curug Lalay
3. Curug Dago

Karena waktu yang sudah siang, kita putuskan untuk menuju curug Omas saja, walaupun sebenernya pengen menjelajahi semuanya, tapi karena bulan puasa juga, jadi mungkin lain kali. hehehe. Perjalanan ke Curug Omas diawali dengan melewati Goa Belanda. Goa ini merupakan goa buatan jaman Belanda yang dulu digunakan untuk tempat penyimpanan senjata (kalo ga salah). Goa nya sangat besar dan panjang..kurang lebih 75m kayaknya..sebelum memasuki goa terdapat jasa peminjaman senter, karena goa sangat gelap.

Setelah keluar goa, kita masih harus berjalan kaki melewati hutan-hutan, dan pemandangannya sungguh luar biasa..saya jadi rindu suasana alam di kota Malang..hiks..hiks.. Di sepanjang jalan ternyata banyak tukang ojek menawarkan jasa untuk mengantar sampe air terjun. What? Sejauh itukah? pikir saya. Namun kami berdua mengurungkan niat untuk menyewa ojek, karena tidak percaya dan mahal pula tarifnya, kami ditarif Rp50.000/orang untuk PP. Bujubuneeengg..jadi berdua Rp100.000 dongg..huhu.. Apalagi kita sudah sering menjelajah hutan dan gunung untuk menuju air terjun.

Langkah demi langkah, tidak terdengar suara air terjun sama sekali, sungai pun terlihat masih kering, tak ada tanda-tanda sungai beraliran deras. Padahal kita sudah merasa berjalan jauh dan menanjak pula. Saya sampai ngos-ngosan. Disitu kami berdua mulai curiga, sepertinya memang jalan menuju air terjun masih sangat jauh. Bapak ojek yang menawarkan harga mahal tadi sampai berkali-kali mendatangi kami dengan harga yang diturunkan terus. Haha. Kami tak menyerah, sampai akhirnya saya merasa tidak kuat lagi untuk berjalan. Andai saat itu bukan bulan puasa, saya memakai sepatu yang cocok, dan perut saya sehat, pasti saya kuat-kuat saja berjalan sampe air terjun sejauh apapun. Dan juga karena langit yang sudah muali mendung, akhirnya bapak ojek yang berkali-kali tadi datang lagi menawari kami, kali ini dengan harga banting, Rp30.000 PP untuk 2 orang! Hahahaha...dari Rp100.000 jatoh ke Rp30.000! Yasudah, akhirnya kami memutuskan untuk mengiyakan tawaran bapak ojek itu. Dengan sepeda bebeknya yang sudah mulai butut serta kotor karena lumpur, kami bonceng berdua. Dan ternyataaaaaa...jalan menujur air terjun masih jauuuhhhh...jyaaahh naik motor aja berasa jauh, apa kabar jalan kaki??yahh kurang lebih 10 menit naik motor.. hahahaha...jalannya menanjak dan berlumpur pula..melewati hutan-hutan yang rada gelap gitu..hmm..

Dan akhirnya sampailah kami di tempat parkir ojek. Ternyata di situ ada semacam gasibu untuk tempat menunggu para bapak ojek. Menunggu penumpangnya. Dari parkiran itu, kita masih harus berjalan kaki sekitar 50m untuk menuju air terjun. Finally..akhirnya kita bisa melihat yang namanya curug Omas...






Prepare Abroad Vacation (Singapore & Kuala Lumpur)

Haii guyyss lama juga saya tidak menulis di blog tercinta ini. Ada 2 tahun kayaknya..hehe :p Karena kesibukan saya yang ga ada matinya *wow, akhirnya baru sekarang kepikiran mau nulis lagi di blog pribadi. Bukan karena apa, karena saya pengen berbagi mengenai pengalaman baru untuk holiday ke luar negeri, maklum baru pertama ini saya akan "go international" jadii agak heboh dikit gag papa lah yaa.. :D

Jadi ceritanya, di tahun 2013 saya bekerja di Sales & Marketing MNCTV, dan disana saya bertemu dengan teman-teman dan orang-orang yang luar biasa. Orang-orang paling seru yang pernah ada..dan disana saya pun berteman baik dengan mereka. Sampai akhirnya, di penghujung tahun 2013, tepatnya bulan September, kami nekat booking tiket pesawat Air Asia CGK-SIN yang cuma 99ribu!! Yaa tentunya harga belum nett..masih ketambahan tetek bengek jadi totalnya cuma 150ribu! hahahahah! Entah apa yang ada di pikiran kami saat itu, nekat booking untuk bertiga dan keberangkatan untuk 8 bulan ke depan, yang masih lamaaa sekali.. hehe. Tapi percayalah, kalo kalian pengen berlibur, apalagi untuk jarak jauh, kadang perencanaan yang matang itu malah mempersulit keberangkatan, menunda, dan ujung-ujungnya malah gak jadi berangkat. Jadi "bondo nekat" lebih baik. Sometimes. Dan pada saat itu, kami tidak memikirkan masalah budget, masalah tiket balik ke Jakarta, masalah tempat menginap disana, bla bla semua itu sama sekali masih nol. Apalagi kami backpack yang otomatis kudu mandiri mengurus semua kebutuhan selama disana. "Nanti ah dipikir sambil jalan sampai hari H" begitu slogan kami bertiga. he he he.

Waktu semakin berjalan, dan kami pun mencicil persiapan satu per satu. Sejak itu, kami jadi sering pantengin situs tiket pesawat dari Singapore ke Jakarta. Hampir setiap hari. Sampai akhirnya kami kewalahan dan panik karena tiket balik masih mahal semua. Di atas 600k kalau ga salah. Bagi kami itu mahal, maklum, backpacker. :p. Suatu ketika kami menemukan tiket murah sekitar 400k-an dari Kuala Lumpur ke Jakarta, dan bukan Air Asia, melainkan Tiger Air. Setelah berunding bertiga, kami putuskan untuk sekali lagi "nekat" baliknya ke Jakarta dari Malaysia. Tanpa memikirkan bagaimana nanti kami pergi ke KL nya.Ya, begitulah kami. Dengan nekat, maka sebagian besar keinginanmu inshaa Allah akan tercapai. Dalam konteks ini, cita-cita untuk "go international". Kapan lagi? Kalo bisa ke Singapore, kenapa ga sekalian ke Malaysia? Deket kaann..hahahah.

Setelah dapet tiket PP dengan total sekitar 500k akhirnya kami lega dan bisa mencicil persiapan yang lainnya. Maklum, karena ga pernah ke LN, dan kebayang aja enggak, jadi agak rempong untuk mencari informasi mulai dari bandara Changi itu seperti apa, hostel nyari yang murah, budget, transport ke Malay juga gimana, naik apa, dan beribu pertanyaan yang harus kami selesaikan sepanjang sampai hari H. Saya pun jadi rajin browsing blog orang-orang yang backpack ke Singapore dan Malaysia. Kami banyak terbantu dari sana, dari pengalaman orang-orang yang ditulis di blogspot.

Sejak saat itu, saya dan teman-teman sudah mengira-ngira budget berapa yang harus kami bawa kesana. Kesimpulan saat itu, kami harus menyisihkan sekitar 500k dari gaji kami setiap bulan untuk ditabung sampai hari H. Tak ada bantuan sepeserpun dari orang tua maupun keluarga, kami mandiri dengan uang jerih payah sendiri untuk bisa melancong.

PASPOR
Prepare selanjutnya adalah membuat paspor. Untungnya ga pake visa yah. Karena saya bukan warga asli Jakarta, jadi agak ketar-ketir juga, gimana klo ternyata bikin paspor harus di kota asal. Tapi ternyata tidak. Dan akhirnya suatu waktu di hari Selasa, aku dan salah satu temenku namanya mbak Tika, berencana mengurus paspornya. Temen kami satu lagi, namanya Indri, sudah punya paspor, karena udah pernah ke Singapore satu kali. Kenapa kami terburu-buru? Ya, karena saya tidak lama lagi akan meninggalkan MNCTV. Dan kebetulan saat itu dokumen seperti ijazah dan kartu keluarga saya bawa ke Jakarta. Dua minggu kemudian saya harus pulang ke Malang untuk mengembalikan dokumen tsb. Itulah alasan kami tergesa-gesa mengurus paspor. Oh iya! Dan paspor itu perlu untuk membeli tiket pesawat Tiger Air, begitu. Jadi ini tadi kebalik, ngurus paspor dulu, baru beli tiketnya. Hari Selasa pun tiba, dan atas nasehat rekan kantor kami, kami dianjurkan ke kantor Imigrasi dengan memakai seragam MNCTV, katanya biar cepet n dimudahkan ama petugasnya. Hahahah. Selasa pagi aku berangkat ke kantor dengan seragam hitam hitam MNCTV yang harusnya dipakai di hari Senin dan Kamis. Setiap berpapasan dengan teman, mereka selalu bertanya "mau kemana wooyy kok pake seragam??" hahaha. Sudah jadi rahasia umum, klo pake seragam di luar hari ketentuan, berarti yang bersangkutan sedang shooting atauuu ada keperluan "lain" di luar kantor. he he he. Untung hari itu GH kami yang namanya mas Fery lagi cuti, jadi kita bebas mau keluar. Tetep absen tapi ga ada di kantor xixixi (bukan untuk ditiru ya guys :p). Akhirnya pun kami berangkat jam 9 pagi dari kantor dengan naik Busway dari halte Pinang Ranti. Panasnya minta ampyuunn. Belum pula macetnya. Untung kantor Imigrasi Jakarta Timur bisa dijangkau busway, jadi ga perlu oper2 ojek atau angkot lagi. Udah ga kuat ciinn. Kita sampai kantor imigrasi kurang lebih jam 11 siang. Dan langsung ke loket pendaftaran dengan melengkapi berkas-berkas. Seingat saya, berkas-berkas untuk paspor itu:
  1. Kalau online, niscaya lebih mudah. Jadi kita masuk ke website imigrasi  dan klik "Layanan Passpor Online" tinggal mengikuti langkah-langkahnya.
  2. Selesai daftar online, kita akan dikirimin berkas bahwa kita telah daftar online, dan juga pemilihan tanggal kita untuk datang ke kantor imigrasinya
  3. Datang ke kantor imigasi dengan membawa kelengkapan berkas yang sudah disayaratkan di website imigrasi tadi yaa
  4. Dan jangan lupa untuk membawa uang. Waktu itu (Oktober 2013) biaya pengurusan paspor saya sebesar 255k. Entah sekarang berapa. Selama masih ada waktu panjang dan bisa mengurus sendiri, mending sendiri yaah, jangan ke calo. Karena harganya bisa dua kali lipat.
Di kantor imigrasi pun ternyata masih harus mengantri panjaaangg~ karena banyak sekali yang membuat dan memperbarui. Kita sampai lagi di kantor itu jam 7 malam, dan saya pun masih ada tanggungan kerjaan yang harus selesai hari itu. Ohh what an exhausting day..

TRANSPORT SINGAPORE-MALAYSIA
Persiapan selanjutnya berupa hostel di Singapore dan Malaysia sudah diurus oleh kedua teman saya. Kebetulan kami ada kenalan disana yang bisa booking dulu. Untuk mencari hostel mungkin bisa di agoda atau website lainnya. Disini saya kebagian mengurus transport selama disana. Setelah searching selama berjam-jam, akhirnya saya temukan juga transport Singapore-Malaysia.  Dan berdasarkan pengalaman blogger lain, memang sebaiknya untuk memesan kereta tsb harus jauh-jauh hari, takut kehabisan. Ini khusus KTM (Keretapi Tanah Melayu) yah. Sama kalau kayak kita di Indonesia beli kereta api di situs KAI untuk jarak jauh. Berikut langkah-langkah booking kereta KTMB tsb:
  1. Buka website kereta api Malaysia
  2. Klik e-ticket
  3. Anda harus register dulu untuk bisa booking
  4. Perlu diketahui, pemesanan kereta KTMB ini ternyata maksimal adalah H-30, tidak seperti di Indonesia yang H-90. 
  5. Segera isi data dan nomer paspor, serta memilih jenis kereta dan tempat duduk.
  6. Disini, saya memilih keberangkatan dari Woodlands CIQ untuk ke Sentral Kuala Lumpur. Kenapa? Karena kami berencana berangkat pagi, dan kereta tsb pagi nya jam 08.30, kami takut tidak keburu kalo brangkatnya dari Johor Bahru. Memang kurs SGD sangatlah mahal, harga kereta berangkat dari Singapore (Woodlands CIQ) dihitungnya jadi 3x lipat lebih mahal daripada berangkat dari Johor Bahru (JB Sentral). Saran sayan jika anda masih mempunyai waktu luang yang panjang, lebih baik kalo ingin ke Malaysia dari Singapore, berangkatnya dari JB Sentral, karena harga tiket keretanya dalam hitungan MYR yang kursnya jauh lebih murah dari SGD. Untuk pergi ke JB Sentral, anda bisa naik bus yang fee nya sekitar 20k sekali jalan. Murah bukan? Tapi, jika waktu anda mepet, saya sarankan untuk naik dari Woodlands saja, karena menghindari antri di imigrasi Malaysia.
  7. Selesai mengisi data dan anda diharuskan membayar dengan menggunakan kartu kredit. Berhubung saya gak punya kartu kredit, jadi saya pinjam kakak saya. he he he.
Inilah penampakan e-ticket KTMB nya, tinggal di print dan jadi deh tiketnya! hehee

MONEY CHANGER
Persiapan lainnya adalaahh mengenai penukaran mata uang. Ada banyak usulan dan pertanyaan mengenai penukaran uang lebih baik di money changer di negara asal atau nanti aja di bandara? Jujur saya belum tahu lebih murah mana menukarnya, di money changer Indo atau di bandara LN. Tapi kalau menurut saran saya sih, mending segera persiapkan saja semuanya di Indo, jadi pas nyampe disana kita ga usah rempong nukerin duit. Lagian kita juga gak tahu apa yang terjadi di depan nanti, bisa saja kursnya tiba-tiba naik atau ternyata di sana lebih mahal. Saran saya lebih baik tukarkan di Money Changer, karena selisih lebih murah ketimbang kita nukerin di bank. Bagi yang tinggal di kota Bandung, bisa nukerin di GMC (Golden Money Changer)

Mengenai barang bawaan untuk kesana, jika Anda tidak memesan bagasi, makaaa saran saya bawalah barang seSIMPLE mungkin!! Usahakan jangan membawa benda cair, sedikit mungkin boleh, tapi untuk menghindari kesalahan, mending tidak usah bawa. Jangan membawa bekal air minum, karena pastinya akan dsuruh mengkosongkan. Jadi lebih baik bawa botol kosong saja. Nanti refill disana.
Untuk baju, bawalah bahan yang ringan dan nyaman dipakai. Sehari cukup satu baju. Jika anda backpack selama 3-5 hari, cukup bawa celana jeans 1 saja. Hindari membawa barang yang tidak penting..bawalah sesuai keperluan saja..karena pada saat pulang, barang bawaan kita pasti akan bertambah aliaaasss beli macemmm2..hahahaha. Jadi tahanlah diri untuk tidak membawa barang yang sekiranya kamu bisa hidup tanpa dia. he he he.
Oh iya satu lagi, mungkin penting juga untuk membawa peta jalur MRT di Singapore. Anda bisa menemukannya di mbah Google dengan key search "peta MRT Singapore" trus di print deh! :D

Sekian mungkin sekelumit persiapan saya untuk bacpacker. Tunggu cerita selanjutnya yaaahh.. :D semoga bermanfaat. :)
 






"tiga dara" yang menghuni rumahku :3

tiga dara itu adalah kucingku.. ahahaha... memang bukan anggora, tapi mereka sangat lucu dan bisa menghibur orang serumah.. nice cat's.. :)


Yang ini namanya "rembes". knapa rembes?? tuh mukanya penuh bentol-bentol hitam.. =)) kayak kotoran n kucing yang jorok, makanya dinamai rembes.. hehe.. tapi dia lucu dan berbulu paling halus diantara 3 dara lainnya.. 
Hobi : makan, tidur, dan berburu cicak di malam hari -___-" (hobi apaan tuh mbes?!)



yang ini nih, kelon-kelonan hobinya.. =)) yg atas si kakak beda ayah, namanya osin.. :D haa.. si Osin ini kehilangan anaknya pas masih bayi-bayi, soalnya aq kasiin orang, males sih punya kucing banyak-banyak. Gara-gara itu, dia jadi stres (kehilangan anaknya) trus melampiaskan ama kedua adiknya, si Wewet ama Rembes tadi.. hahahaaa.. :D dia suka maksain dua adiknya untuk dimandiin.. *jilat-jilat.. =.= bahkan sampe tangannya tuh ga mau nglepasin gara2 mau mandiin adiknya.. perutnya gede banget kek orang hamil ga jadi malah jadi daging.. wakakakak!!
*Osin* hobi : naek kursi pas orang lagi makan, mandi, mandiin kucing lain -___-

Wewet nih adiknya Rembes, mereka sepersusuan. :). postur tubuhnya cetakan 100% mirip ama bapaknya, Mbah Gimbul, kucing preman di daerahku.. hahaha... bulunya halus tapi pendek2 yah... perutnya buncit juga.. hahahaha... :3 oh ya knapa dipanggil wewet?? karena dulunya dia amat sangat cerewetttttttttttttt klo minta makan.. =.= tp sekarang udah nggak lho, biasa aja gitu.. knapa ya.. o.O
*Wewet* hobi : jalan-jalan :3


*photo taken by Nikon D60 with Flash
thank's to Mas Danang, Rembes, Wewet, & Osin


Have you Seen "Coban Manten" ?

Coban Manten, saat membaca judul ini, yang pertama muncul dalam pikiran kita adalah pernikahan! (manten: pernikahan, bhs Jawa red.). Sedangkan coban artinya adalah air terjun. Kesimpulannya, Coban Manten merupakan air terjun kembar, dimana dalam satu tebing terdapat dua buah air terjun saling berjajar yang dikonotasikan sebagai pasangan pernikahan yang juga berjajar.

Coban Manten merupakan wisata air terjun yang masih sangat alami. Mengapa saya katakan itu, karena wisata ini belum direkondisi sedikitpun, jangan harap anda menemukan bangunan, atau jalan setapak yang terbuat dari aspal, atau bahkan warung-warung kecil yang biasanya mangkal di sepanjang coban. Inilah kesitimewaan tersendiri coban Manten.


Coban Manten memang belum direkondisi oleh pemerintah setempat, karena letaknya yang sangat jauh dari akses jalan umum dan sangat terpencil. Ia terletak di desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kab.Malang. Lebih gampangnya, terletak di bumi perkemahan Coban Rondo, dengan jarak sekitar 4 km dari Coban Rondo. Sudah pada tahu kan Coban Rondo? Ya, air terjun ter-famous di Malang. :D

Bagi Anda yang penasaran dan ingin berwisata kesana, saya ingin berbagi guide kepada Anda. Hal pertama yang harus Anda siapkan adalah kondisi fisik yang prima, sepatu yang kuat atau sandal gunung, dan bekal yang cukup. Jangan membuang sampah sembarangan yaa di sepanjang jalan.

Nah, untuk memulai perjalanan, Anda bisa berangkat ke kota wisata Batu, dan menelusuri rute menuju Coban Rondo. Jika belum tahu Coban Rondo itu dimana, Anda bisa bertanya kepada warga Batu dimana saja mereka berada, pasti tahu. :D Setelah masuk gang sapi (gang Coban Rondo), teruskan perjalanan dan Anda akan menjumpai loket. Bayarlah tiket masuk (saya lupa berapa harganya), setelah itu teruskan perjalanan Anda sampai ke bumi perkemahan Coban Rondo (jangan ke lokasi wisata Coban Rondonya ya :p). Tak usah  khawatir tersasar, karena di sepanjang jalan banyak sign system dan Anda juga bisa bertanya kepada penduduk atau petani setempat. Sampai di bumi perkemahan, parkirlah kendaraan Anda di sana.

Masih bingung harus berjalan ke arah mana setelah itu? Ya, itu yang pertama saya rasakan, "harus kemana nih?". Haha. Jangan sungkan bertanya kepada penduduk/petani setempat, itu yang utama. Malu bertanya sesat di jalan! Di sebelah kiri jalan tempat parkir, tentunya Anda akan menemui jalan setapak, dari situlah Anda harus memulai perjalanan Anda. Ada 2 buah jalan setapak, sama saja kok. Atau kalau masih ragu, Anda bisa bertanya ke tukang parkirnya, rute Coban Manten lewat mana, seperti itu. Mereka pasti mau memberi tahu.

Jalan setapak adalah rute pertama dan kondisi jalan agak menanjak, dan ini lumayan memakan tenaga bagi Anda yang tidak terbiasa olahraga. Anda akan berhenti sebentar-sebentar (saya juga begitu kok :p)
Teruskan perjalanan, mungkin Anda akan menemui sekelompok orang yang sedang berkemah, tetaplah pada jalur, berjalan menanjak, dan Anda menemukan toilet bercat hijau.


Jika Anda sudah menemui toilet bercat hijau, berarti rute awal Anda sudah benar. Ikuti jalan setapak, dan pemandangan berikutnya yang akan Anda lewati :

Teruskan perjalanan Anda, jangan membuang tenaga, berjalan dengan santai. Oh ya, saran saya, Anda harus berangkat pagi-pagi, karena perjalanan ini memakan waktu yang tidak sedikit. Saya berada pada rute ini sekitar pukul 10.00 ya. :) Bersabarlah di perjalanan dan jangan mengeluh seperti saya "Kok jalannya begini terus dan ga sampe2??" hehehe :D memang begituu.

Setelah berjalan cukup jauh, Anda akan menemui jalan setapak dengan dnding-dinding tanah tinggi di kanan kirinya. Saya menyebut rute ini dengan sebutan "tebing mini". Tebing mini ini cukup panjang dan melelahkan.


Saat tebing mini sudah tak lagi terlihat, maka Anda akan menemui sebuah ladang perkebunan cabe rawit. Ya, ladangnya luas dan banyak ibu-ibu petani disana. Anda memang harus melewati kebun ini, karena memang itu jalan satu-satunya, silahkan berjalan menelusuri jalan setapak kecil yang kanan kirinya terhampar tanaman cabe rawit yang luasss... hijau dan merah menjadi satu.. :) 


Setelah kebun cabe rawit kecil, hamparan berikutnya adalah kebun cabe besar. Ya, cabe yang gendut-gendut itu lho. Tetaplah berjalan sesuai jalur yaa... Dan setelah cabe besar, Anda akan menyusuri kebun tomat. Oh ya saya lupa, sejak melewati kebun cabe besar, jalan setapak Anda harus berada di sisi pinggir kebun, berbeda dengan kebun cabe rawit yang jalan setapaknya di sisi tengah kebun. Tak lama kemudian, kebun-kebun tsb sudah tak terlihat lagi, dan Anda hanya berjalan di setapak dan silahkan ambil alur jalan yang naik dan menanjak hingga Anda menemukan kebun kol (kubis berwarna ungu). Kebun kol hanya sebentar kok, selanjutnya Anda akan melewati jalan setapak yang berputar dan menanjak. Ikuti jalan, dan Anda sampai pada dataran tinggi yang jika menoleh ke bawah Anda bisa melihat wisata Coban Rondo walaupun hanya sekilas dan telihat sangat kecil. Jika sudah menemui ini, berarti Anda berada pada jalur yang benar.


Coban Manten memang air terjun yang terletak paling atas di pegunungan ini. Urutannya adalah, Coban Manten, Coban Tengah, dan Coban Rondo. Berikut gambar saat berada di jalur yang bisa melihat kawasan Coban Rondo dari atas.


Teruskan perjalanan dan Anda akan menemui jalan setapak yang bercabang berkali-kali, namun tak usah khawatir, karena disana sudah ada semacam petunjuk jalan yang dibuat oleh pengunjung yang datang sebelum Anda. Pada beberapa cabang jalan setapak, Anda akan menemukan ranting kayu yang dibentuk silang berdiri yang menandakan itu bukan jalur. Selanjutnya Anda akan menemukan ukiran panah pada sebuah pohon yang terletak di tengah-tengah cabang jalan. Ikuti arah panah tsb.


Perjalanan Anda masih belum selesai (sabar yaa). Rute terakhir yang harus Anda lewati adalah 3 sungai. Anda harus menyebranginya. Tenang saja, sungai disini kecil dan dangkal. Tapi jangan ditanya dinginnya, bikin kaki jadi kaku dan sakitnya minta ampun. Maka jangan berlama-lama menyebranginya, teruslah berjalan semampu Anda. :D #lebay

Sungai yang Anda sebrangi tidak 3 sekaligus, melainkan masih harus berjalan dan mendaki dulu, baru bertemu sungai berikutnya. Objek pendakian yang paling sulit adalah saat menaiki akar pohon yang besar. Bagai tebing yang lumayan tinggi, Anda harus pandai-pandai memijakkan kaki di antara akar-akar pohon. Kasarnya seperti menaiki tangga kok, namun ini tangga yang terbuat dari akar pohon, dan Anda harus berpegangan pada akar yang lain agar tak terjatuh. :D seru kan? Anda juga masih harus melewati jalan setapak yang berbatu besar dan tajam.

Dan tak lama kemudian....... sampailah Anda di air terjun kembar ini..! Rasa letih dan lapar akan langsung hilang begitu Anda sampai.. Silahkan menikmati bekal, ingat, jangan membuang sampah sembarangan..! Bila perlu, sampah dimasukkan ke tas, dan dibuang saat Anda pulang. trims :) mari kita jaga kebersihan lingkungan, kalo bukan kita siapa lagi. :)

























PERJALANAN INVESTASI : DARI TABUNGAN BERJANGKA HINGGA SAHAM

Waw baca judulnya kayak iye banget ya? Hahaha. Tulisan ini hanya menceritakan pengalaman, bukan rekomendasi. Keputusan investasi semua berad...

Post Signature

Post Signature